Monday, 9 January 2017

Wali Paidi 37


Dengan bersandarkan tembok wali paidi menikmati kopinya, sesekali dia menyedot rokoknya,
“ Allah…Allah….Allah….” dzikir wali paidi mengiringi hembusan rokoknya
Wali paidi mendoakan seluruh masyarakat dikampungnya, seluruh teman-temanya, guru-gurunya dan semua yg berhubungan dgnya, wali paidi bersiap-siap mau mengunjungi saudaranya yg baru mempunyai anak.
Setelah merasa cukup ngopi dan merokoknya wali paidi mengeluarkan motor dan mempersiapkan segala keperluan kalau hujan turun, dan berangkatlah wali paidi ke rumah saudaranya
Wali paidi sebulan ini diberi karomah oleh Allah berupa kilatan-kilatan kejadian2 yg akan terjadi dikemudian hari, orang jawa mengistilahkan “ weruh sak durunge winarah “ , repot juga sekarang jadinya, karena wali paidi kadang2 keceplosan omong, mengatakan sesuatu yg belum terjadi kepada orang2 disekitarnya
Dan ketika ada istri dari saudaranya ( teman seperjuangan wali paidi ) ini hamil, wali paidi mendapat kilatan cahaya dihatinya kalau anak dari saudaranya ini laki2, tapi saudaranya ini bilang kalau istrinya habis di USG dan hasilnya kalau calon anaknya ini perempuan, wali paidi sangat menghormati saudaranya ini, karena dialah yg memperingatkan wali paidi kalau dia mulai salah arah, wali paidi hanya diam setelah diberitahu oleh saudaranya ini, saudaranya ini lalu berkata lagi
“ kalau anakku lahir laki di….kelak dia akan jadi wali besar…” 
Wali paidi tersenyum, dalam hati dia berkata : “ saudaraku ini memang lucu dan aneh, katanya perempuan doanya seakan calon anaknya ini laki hehehe…”
“ Amin…amin…amin….” Wali paidi dg sepenuh hati mengamini
“ tapi calon anakku ini perempuan di…. “ katanya kpd wali paidi
“ ha…ha…ha…..” wali paidi hanya bisa tertawa melihat semua ini
Dan kemarin wali paidi mendengar kalau anak dari saudaranya ini telah lahir, dan anaknya ternyata laki, wali paidi ikut bergembira mendengar khabar ini, 
Wali paidi sampai di rumah saudaranya ini sehabis magrib, dan ternyata ibunda dari saudaranya ini ada disana, dan yg membuat wali paidi terkejut ternyata mas kiai guru wali paidi juga berada disitu
“ baru datang di…” Tanya mas kiai
“ inggih mas….” Jawab wali paidi
“ saudaramu masih menemui para tamu dari saura dekat sekitar sini, kamu sama aku ada…” ucap mas kiai,
Lalu mas kiai berdiri menuju sebuah kamar, dan wali paidi mengikutinya, sesampai dikamar mas kiai menyalakan tivi, dan duduk bersila
“ duduk sini di…sebentar lagi kopinya akan datang” ucap mas kiai
Wali paidi duduk disamping mas kiai, melihat tivi berdua, setelah memindah-mindah chanel akhirnya di temukan film action barat yg bagus.
“ wah iki film apik di…” ucap mas kiai dg gembira
Wali paidi hanya diam, wali paidi sebenarnya suka dg film itu, tapi wali paidi sudah pernah melihatnya dan tahu dg akhir ceritanya
“ gak suka dg film ini di…” Tanya mas kiai
“ ndak mas…” jawab wali paidi berterus terang, karena percuma kalau ngomong ditutup-tutupi
“ mengapa…” Tanya mas kiai lagi
“ karena sudah tahu jalan ceritanya…” jawab wali paidi lagi
Lalu dua cangkir kopi datang diantarkan kpd mereka, mas kiai membuka tutup cangkir kopinya dan menghirup aromanya, tampak wajah yg begitu bersyukur terlukis diwajah mas kiai, lalu mas kiai menaruh cangkirnya dan berkata :
“ ya begitulah kalau sudah tahu akhir ceritanya di…, walaupun film yg kau lihat itu bagus akan terlihat membosankan, makanya ketika Allah memberiku kilatan cahaya kejadian2 yg akan terjadi dimasa mendatang, aku meminta kepada Allah untuk menutupnya kembali, karena hidup ini akan gak asyik dan membosankan…..” 
“Ha….ha…ha…ha….” wali paidi dan mas kiai tertawa, 
“ ha…ha…ha…ha….” Mereka tertawa lagi, tahu sama tahu
“ begitu juga dg saudara kita yg baru punya anak ini, dia sebenarnya bisa melihat jenis kelamin anaknya, tapi dia tidak mau, biar jadi kejutan begitu katanya ..” ucap mas kiai
“ inggih…..inggih….hahaha…” ucap wali paidi
“ kasihan orang2 yg disekitarmu di…kalau kamu tidak minta kpd Allah untuk menutupnya….” Kata mas kiai

“ inggih mas…..” jawab wali paidi dan mulai berdoa kpd Allah untuk menutup kilatan cahaya karomah dihatinya

BERSAMBUNG …

Wali Paidi 36


" kring...kring......kring...."
wali paidi melihat hapenya, terlihat sebuah nama yg wali paidi sangat mengenal dan menghormatinya, wali paidi mengangkat hapenya
" bro....ayo ngopi....." suara terdengar dr seberang
" siap...bro..." jawab wali paidi
wali paidi bergegas ganti pakaian, sarung wadimor dan baju ditanggalkannya, dia ganti memakai celana yg bawahnya mengecil yg dia tdk tahu celana apa ini namanya, kaos oblong ketat warna hitam dan rambut gaya kim jong il yg lg ngetrend saat ini, yg kanan kiri dipotong tipis tp atasnya dibiarkan lebat, wali paidi baru kemarin potong rambut model begini di tukang potong rambut Madura
wali paidi bergaya seperti ini demi menghormati teman yg mengajaknya ngopi ini, wali paidi ini sampai sekarang masih heran dg temannya yg satu ini, penampilannya " mas bro banget " padahal kalau tahu dan lama bergaul dgnya, temannya ini luas dan dalam laksana samudera
wali paidi berangkat, padahal dia belum tahu temannya ini ngopi dimana, yg penting dia berangkat dg niatan nyambung seduluran.
tdk lama kemudian hapenya berbunyi, ada sms masuk
" aku tunggu di broJan coffee....." bunyi sms
" oke meluncur bro..." balas wali paidi dlm smsnya
sekitar satu jam an wali paidi sudah sampai di warung yg dimaksud, caffe yg bergaya modern dan gaul, wali paidi masuk kedalam, dilihatnya temannya ini sudah ada didalam bersama kawan2nya
" hai....sini bro..." ucap temannya mempersilahkan duduk
wali paidi mengangkat tangannya ( say hello ) kemudian duduk, tidak lama kemudian datang seorang perempuan menyodorkan menu kpd wali paidi
" pesan apa bro..." ucap wali paidi kepada temannya
" terserah bro..." kata temannya
wali paidi mengambil menu dan membukanya, wali paidi mulai kebingungan dg gambar menu yg dilihatnya, gambar makanan dan nama yg aneh2 terpampang didepan wali paidi, wali paidi bingung karena selama ini wali paidi kalau ke warung tahunya hanya rawon dan nasi pecel, wali paidi mencoba melihat menu minuman, wali paidi tambah bingung karena gambar kopi hitam yg dicarinya tdk ada, yg ada hanya minuman warna warni dan aneh2, ada kopi tapi sdh dimodifikasi sedemikian rupa
" ini aja bro.." wali paidi menunjuk gambar minuman yg menurutnya menarik
" gak makan..." ucap temannya
" gak bro..." ucap wali paidi
" disini makanannya jg ada nasinya lho..." goda temannya tahu kalau wali paidi bingung
" gak bro udah kenyang..." kata wali paidi
wali paidi sendiri tidak tahu mengapa dirinya merasa gak selera dan merasa kenyang setelah melihat gambar makanan dimenu. setelah makanan datang, mulailah wali paidi ngobrol-ngobrol, asap rokok mulai mengepul diantara mereka, mild, sam soe, marlboro berserakan diatas meja suasana di caffe sangat ramai, disebelah meja wali paidi ada sekelompok muda mudi yg sangat ramai, tertawa dan bersenda gurau dg hebatnya
" biarkan saja mereka bro, mereka itu masih mimpi, nanti kalau mereka bangun mereka akan menangis- nangis...." ucap temannya kpd wali paidi
wali paidi kaget, tiba2 wali paidi seakan-akan melihat mereka yg sedang bersenda gurau itu sudah mati berada dalam kuburnya dan menangis menjerit-jerit karena siksa
" ya Allah...ya Allah...astaghfirullah...." ucap wali paidi dg kaget dan spontan
wali paidi berdiri lalu duduk, berdiri lagi lalu duduk lagi
" ya Allah...bro...bro...gimana dg diriku bro...gimana dg diriku bro..." ucap wali paidi dg menunduk
wali paidi merasa dirinya selama hidup didunia ini bagaikan orang yg tidur dan bermimpi, dia sering melupakan Allah dan hanya mengejar kenikmatan dunia, kelak kalau dirinya mati dia baru sadar, seakan bangun dari tidurnya

" astaghfirullah.....astaghfirullah....." hanya itu yg keluar dr mulut wali paidi dg lirih.

BERSAMBUNG …

Wali Paidi 35


Wali paidi dg perasaan gundah berniat pergi ketulungagung sowan ke mas kiai, dia sudah gerah ketika banyak yg melaporkan kpdnya kalau sekarang banyak para murid mas kiai kesana kemari menjual nama mas kiai untuk kepentingan dirinya pribadi, meminta uang dan minta dihormai secara berlebihan
ketika memasuki gerbang pondok, wali paidi melihat banyak orang duduk di sebelah musholla, sekitar lima orang yg duduk disitu, terlihat mereka adalah orang penting dipondok sini
" ada perlu apa mas...." tanya salah satudari merek
" sowan ke mas kiai..." jawab wali paidi
" oh ke romo kiai..." jawab mereka
terlihat dari jawaban itu, kalau mereka tdk suka dg sebutan mas kiai yg di sebutkan oleh wali paidi, menurut mereka kurang sopan
" wah...skrng romo kiai tdk di ndalem, sampeyan ke makam aja dulu, menunggu disana..." jawab mereka
" inggih..." jawab wali paidi
ketika wali paidi mau beranjak pergi ke makam, ada suara yg memanggilnya
" di....paidi...ayo melu aku...."
wali paidi menoleh, dilihatnya mas kiai yg memanggilnya, wali paidi berbalik mendekati mas kiai dan mencium tangannya, serentak kelima orang yg duduk disebelah musholla berdiri berniat ikut salaman ke mas kiai, ternyata mereka duduk disitu juga menunggu mas kiai.
mas kiai mengangkat tangannya, beliau memberi isyarat kalau beliau tdk mau disalami, mereka lalu duduk kembali
wali paidi mengikuti mas kiai keluar dari pondok, mas kiai menuju mobil yg berada didepan gerbang, mas kiai menyuruh wali paidi masuk ke dalam mobil, didalam mobil sudah ada adik2 mas kiai, wali paidi menyalami mereka
mas kiai mengarahkan mobilnya ke selatan, wali paidi tdk tahu diajak kemana, mobil itu baru berhenti ketika didepannya ada warung kopi , mas kiai turun di ikuti adik2nya, wali paidi mengikuti dibelakang, warung kopi ini terlihat sederhana tp dari aroma kopinya,terasa kalau kopi di warung ini terasa nikmat.
adik2 mas kiai duduk agak menjauh, sedang walipaidi dan mas kiai duduk satu meja. wali paidi belum berani mengutarakan niatnya ke mas kiai, baru setelah pesanan kopi datang, dan mas kiai tampak sudah menyeruput kopinya, dan mulai menyalakan rokok mild-nya, wali paidi berniat mengutarakan unek2nya.
" dari rumah saja di..." mas kiai mendahului bertanya
" iya mas kiai..." jawab wali paidi
" begini di...kadang Allah menguji hambanya dg mendatangkan orang yg bernat menipu kpd kita, apakah hati kita akan terusik dg hal tsb atau tidak, seyogyanya kita dlm menata hati tdk boleh membedakan siapapun yg datang kpd kita, hati kita tdk boleh kemasukan sifat benci ataupun tdk suka kpd siapapun " kata mas kiai
setelah menghisap rokoknya mas kiai berkata lagi:
" Allah mengujiku dg mendatangkan para murid yg suka menjual namaku, suka meminta atas namaku, dlm hal ini tdk boleh sedikitpun didalam hatiku ada rasa benci atau tdk suka terhadap mereka, krn Allah lebih berhak memutuskan apa yg dikehendakinya, aku hanya membimbing mereka, kadang Allah mengirim orang untuk menipuku, apakah hatiku akan sedih dg uang ratusan juta yg raib krn ulah mereka, apakah hatiku akan benci kpd mereka, ini semua ujian di..., kadang untuk menghajar napsuku,aku malah memberi uang kpd mereka yg pernah menipuku....kita harus menjaga hati kita jgn sampai kemasukan sifat2 tercela...

wali paidi menunduk, dan tampa bisa dicegah berlinanglah air matanya...

BERSAMBUNG …

Wali Paidi 34


wali paidi bercerita, aku duduk melingkar bersama 5orang sepuh yg aku tdk tahu siapa mereka, tampak dari wajah mereka, kalaumereka sedang berdzikir sirr dan menunggu seseorang.
tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yg kelihatannya miring otaknya, pemuda ini datang dg memakai sarung yg di lilitkan dilehernya bergaya seperti superman, dg agak bergumam pemuda ini ngomong2sendiri,
pemuda ini mengibas-ngibaskan sarungnya lalu mendekati kami, pemuda ini berdiri ditengah-tengah kami dan melewati satu persatu lima orang sepuh ini dg menutupkan sarungnya ke wajah mereka, ketika melewatiku pemuda ini tidak menutup wajahku dg sarungnya, pemuda ini mengitari kami sampai tiga kali, dan setiap lewat pemuda ini tetap menutupi lima orang sepuh ini kecuali wajahku saja yg tidak ditutupi sarungnya
setelah berputar sampai tiga kali pemuda ini berhenti dan menengadahkan wajahnya ke langit, lalu beranjak pergi sambil berkata dg jelas dan diulang-ulang
" musibah yg terbesar adalah terhijab dari Allah...."

seketika itu juga menangislah lima orang sepuh ini dg menjerit-jerit
aku hanya plungah plunguh melihat itu semua...

BERSAMBUNG …

Wali Paidi 33


Wali paidi pertama diberitahu oleh nabiyullah Khidirkalau dia adalah wali pengganti, mengalami kekagetan yg lumayan menggoncangkandirinya
sejak pengangkatan itu dirinya sering sakit, setiapbulan minim 2 kali wali paidi sakit, kadang tiba2 kepalanya pusing dan tubuhnyagreges, ros2 tulangnya serasa mau copot, dan setiap diobati penyakit itu tetapsaja menghampiri dirinya, seakan obat2an tdkmempan melawan penyakitnya akibatnya wali paidi sering tidak hadir diacara -acara yg biasa ia hadiri, seperti ngopi bareng, remian, maleman, melek an,sampai bolo - bolo meledeknya, seperti orang kere yg manja hehehe
wali paidi jg gak ngerti dg keadaan tubuhnya ygtidak seperti biasanya ini, sampai akhirnya Nabi Khidir menemuinya dirinyalagi, Nabi Khidir datang dg bentuk seperti salesman, sales produk air mineral. Nabi Khidir menjelaskan kepada wali paidi
" setiap wali menanggung bala' atau menjaditameng setiap bala' yg diturunkan oleh Allah kpd umatnya..."setelah menaruh barang dagangannya, Nabi Khidirmenjelaskan lagi
" bala' yg turun ditanggung oleh para walisesuai tingkatan masing2 wali, semakin tinggi derajat wali semakin berat juga bala' yg ditanggungnya, dulu alm Habib Abu Bakar as Segaf ketika meninggal perutnya ketahuan bolong karena menanggung bala' umat yg dinaunginya, beliau adalah qutb, pemuka dan sultan para wali, sedang tanggungan bala' yg paling ringan adalah sakit kepala, awak greges seperti yg kamu alami itu...."
wali paidi manggut - manggut, dia jadi mengertikalau dia adalah wali pemula, wali pengganti ( wali badal ) seperti pemaincadangan dalam sepakbola,
" matur suwun, maklum wali anyar2an jadinyamanja..." ucap wali paidi
Nabi Khidir berkata lagi
" bersikaplah biasa seperti orang yg tidak sakit, mereka para wali jg mengalaminya, tapi mereka menyembunyikannya...."
Nabi Khidir berdiri lalu beranjak pergi, baru berjalan beberapa langkah Nabi Khidir menoleh dan berkata lagi
" oh ya, setiap ada orang yg memuji2mu, kamu jg akan merasakan sakit seperti itu...."
wali paidi terdiam, dia menyeruput kopinya lagi,dan mengambil satu batang rokok dan menyalakannya. enak2 merokok lewatlah Nabi Ilyas disamping wali paidi yg menyamar sebagai penjual gorengan

" memang enak jadi wali...hehehe..." kata Nabi Ilyas setengah berlari menyusul Nabi Khidir....

BERSAMBUNG …

Wali Paidi 30


Diceritakan pada beberapa edisi yg lalu tentang perjalanan (salik) nya wali paidi ketika mondok disebuah pesanten, cerita kilas balik sejarah asal mula sosok wali paidi, dan sekarang penulis akan mengisahkan sepotong cerita masa kecil wali paidi....
***
Berjalanlah dg menunduk seorang kiai kampung yg sudah sepuh, tampak sarung BHS nya yg lusuh pemberian orang 5 tahun yg lalu dan baju takwa yg sudah tidak bisa dibilang putih menghiasi tubuhnya yg ringkih kiai ini menuju musholla sederhana yg berada disamping rumahnya, kiai ini mendengar suara tangisan seorang anak kecil yg begitu menyayat hati dari dalam kamarnya ketika sholat dhuha, setelah mencarinya ternyata suara itu berasal dari dalam musholla disamping rumahnya
Kiai sepuh ini dg agak gemetar memasuki musholla, setelah membuka pintu pagar dari kayu yg sudah lapuk, kiai ini masuk kedalam, dilihatnya ada anak kecil yg bersandarkan dinding duduk bersila dg memangku sebuah alqur'an, tampak pundak anak kecil terlihat berguncang-guncang karena menahan tangisannya yg memilukan kiai sepuh ini mendekati anak tersebut, setelah dekat barulah kiai sepuh ini mengenali siapa anak ini
" lho, nak paidi....mengapa kok nangis begitu.." ucap kiai dg memegang pundak paidi kecil
" ini mbah, dalam surat albaqoroh diterangkan kalau kayu bakar neraka itu adalah para manusia...." ucap paidi kecil dg suara terbata-bata 
" nak....kamu kan masih kecil, kamu masih suci, kamu gak akan masuk neraka..." ucap kiai menghibur dg suara bergetar paidi kecil ini menjawab :
" mbah, kalau panjenengan pernah lihat tungku pembakaran, pasti yg dimasukkan ke tungku pertama kali untuk menyalakan api adalah ranting-ranting kecil ..."
paidi kecil menunduk, terdengar suara tangisannya semakin keras, tampak qur'an yg dipangkunya basah terkena air matanya
kiai sepuh ini gemetar kakinya mendengar jawaban paidi kecil, dan kiai sepuh ini jatuh terduduk, kiai sepuh ini menangis sesunggukan....
" ya Allah.....astagfirullah....." rintih kiai sepuh 
paidi kecil terkejut, serta merta dia merangkul kiai sepuh, dia merasah bersalah karena menyebabkan kiai sepuh besedih, jadilah keduanya saling bertangis-tangisan.....
" mbah...njenengan gak usah bersedih, saya tahu dan bersedia menjadi saksi kalau mbah kiai adalah orang yg baik, dan saya yakin kalau mbah kiai kelak terhindar dari api neraka..." ucap paidi kecil menghibur 
dg masih menangis kiai sepuh ini menjawab :
" nak....dalam tungku pembakaran, kayu yg paling lama dan terakhir dibakar adalah kayu bongkotan, kayu yg sudah tua seperti aku ini....."
tidak bisa dicegah pecahlah tangisan kedua, mereka saling berangkulan dan sama-sama menangis, pemandangan yg begitu menyayat hati......
esok harinya kiai sepuh ini sakit, kiai sepuh tiada henti- hentinya menangis, kalau ditanya orang-orang yg menjenguknya mengapa kiai tiada berhenti menangis, kiai hanya menggelengkan kepala dan terus menangis satu minggu kemudian mbah kiai ini dipanggil yg maha kuasa.....

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un....

BERSAMBUNG …

Wali Paidi 29


Setelah mendapat banyak karunia dimalang, wali paidi kembali ke pondoknya, mbah kiai yg tahu kedatangan wali paidi merasa sangat senang, dan lansung menyuruh santri untuk memanggil wali paidi dan menghadap kepadanya 
wali paidi yg mendengar titah gurunya itu lansung pergi ke ndalem 
" assalamu alaikum..." ucap wali paidi ketika berada didepan ndalem 
" wa alaikum salam..." jawab mbah kiai dari dalam wali paidi maju dan mencium tangan gurunya, tangan yg lembut dan wangi 
" ayo duduk..." mbah kiai mempersilahkan wali paidi duduk 
setelah duduk wali paidi melihat wajah gurunya ini, keyakinan wali paidi ini memang beda dg keyakinan para murid pada umumnya, kebanyakan para murid tidak berani menatap wajah gurunya ketika menghadap, karena hal tersebut bagi mereka termasuk tindakan yg kurang sopan, tapi pendapat wali paidi lain, dia lebih suka melihat wajah gurunya karena baginya melihat wajah orang sholeh adalah ibadah, dan tentu ada barokah didalamnya, keyakinan atau kedua pendapat ini sama benar, tinggal niatnya saja yg perlu ditata 
wali paidi melihat wajah gurunya ini begitu bersinar dan begitu suci bersih, seakan-akan gurunya ini akan berpergian, teringat ini wali paidi lansung menangis sesunggukan... mbah kiai yg melihat wali paidi menangis hanya tersenyum saja, lalu beliau bilang kepada wali paidi 
" apa yg kamu lihat dan yg kamu rasakan itu benar, aku memang akan pergi memenuhi panggilan Allah, waktunya sudah dekat, aku sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini..." wali paidi tetap menunduk dan terus menangis, mbah kiai lalu berkata lagi
" nak, nanti malam pergilah kamu ke belakang pondok, setelah mencapai sungai duduklah disitu, tunggulah teman abah, belajarlah kamu kepadanya, dan yg penting kamu manut dan jangan banyak bertanya..." pesan mbah kiai 
" inggih kiai...." jawab wali paidi 
" apa yg kamu alami dimalang semuanya aku tahu, jadilah itu sebagai tonggak keimananmu, dan kamu sudah bertemu dg saudara-saudara seperjuanganmu, kelak kalau kamu bertemu mereka kembali sampaikan salamku kepada mereka.." mbah kiai lalu berdiri mendekati wali paidi, beliau menepuk-nepuk punggung wali paidi 
" sekarang kembalilah ke pondok, nanti malam laksanakan apa yg aku perintahkan..." ucap mbah kiai lalu masuk ke ndalem 
setelah mbah kiai sudah tidak terlihat wali paidi keluar dari ndalem, walau mbah kiai sudah tidak ada, wali paidi keluar ndalem tetap dengan membungkuk dan berjalan mundur 
malam harinya wali paidi melaksanakan apa yg diperintahkan kiainya, dia berjalan menyusuri jalan setapak dibelakang pondok, setelah tiba disungai wali paidi duduk ditepian sungai, tiada henti hati wali paidi berdzikir, wali paidi merasakan semenjak dari malang hati wali paidi ini bisa berdzikir dg sendirinya
tidak lama kemudian datanglah sosok yg seumuran dg mbah kiai mendekati wali paidi wali paidi melihat pancaran sinar wajah orang ini sama persis dg pancaran wajah mbah kiai
" aku teman gurumu, aku adalah khidir dan mulai saat ini aku akan mengajarimu...." ucap khidir lansung ke pokoknya 
" inggih...." ucap wali paidi
" ayo ikut aku..." ucap nabi khidir lalu berjalan pergi wali paidi mengikuti dari belakang, wali paidi tidak banyak bertanya sesuai perintah gurunya, dia hanya manut saja, pasrah bongkoan
nabi khidir baru berhenti ketika didepannya ada gazebo ( rumah bambu dg atap ilalang ) yg begitu indah, gazebo ini terlihat kokoh dan futuristik, didepannya ada taman kecil, dan disekitar gazebo terbentang hamparan rumput hijau yg asri, tempat ini seperti villa mahal didaerah pegunungan 
" masuklah, tempat wudlu dan kamar mandinya ada dibelakang.." ucap nabi khidir, dan tidak lama kemudian adzan subuh berkumandang, wali paidi pergi kebelakang mandi, berwudlu kemudian sholat jamaah dg nabi khidir 
setelah sholat, wali paidi duduk diteras gazebo didepannya duduk dg berwibawa nabiyullah khidir as
" aku akan mengajarimu ilmu syareat dan ilmu hakekat, aku akan memanjangkan waktu buatmu, satu hari didunia sama dengan satu tahun kamu bersamaku...." kata nabi khidir 
sejak itu wali paidi belajar kepada nabi khidir tentang berbagai ilmu, mulai shorof, nahwu, fiqih, balagoh mantiq dll, khusus ilmu tauhid nabi khidir mengajarnya dua hari, rabu dan kamis, sedang ilmu hakikat diajarkan disela2 pelajaran ilmu syareat untuk ilmu ini tdk terjadwal, mengalir begitu saja tidak terasa 10 tahun sudah wali paidi belajar kepada nabi khidir, wali padi sekarang sudah menguasai berbagai macam ilmu dan sangat mahir
" sekarang sudah saatnya kamu kembali, ingat pesanku ini, ilmumu itu tdk dapat kau pamer2kan, apa yg aku ajarkan beda dg apa yg kamu terima dipondok, ilmu yg aku ajarkan kepadamu hanya akan keluar ketika dibutuhkan, ilmu itu aku taruh dihatimu" kata nabi khidir kepada wali paidi sehabis sholat isya' berjamaah 
" inggih..." ucap wali paidi 
" nanti kamu jgn kaget, karena waktu yg kamu habiskan disini selama 10 tahun, sama dg 10 hari ketika kamu dipondok" ucap nabi khidir 
hari itu juga nabi khidir mengantarkan wali paidi ketempat pertama kali mereka bertemu, setelah menyampaikan pesan2, nabi khidir pergi meninggalkan wali paidi wali paidi masuk pondok tepat adzan subuh berkumandang, sejak saat itu wali paidi seakan mempunyai ilmu laduni, para santri mengira seperti itu karena wali paidi hanya pergi 10 hari tapi setelah kembali ilmunya menjadi begitu luar biasa..... padahal ilmu yg didapat oleh wali paidi diperoleh dg rajin belajar selama 10 tahun 
tdk lama kemudian mbah kiai memang benar2 pergi meninggalkan dunia ini menghadap sang ilahi, berita tentang kematian mbah kiai tidak begitu menggemparkan, karena mbah kiai bukan kiai terkenal, prosesi pemakaman biasa saja, hanya para santri dan tetangga sekitar, tapi ada yg unik ketika prosesi pemakaman dilakukan, ada puluhan orang tak dikenal berdiri mengitari makam, ada yg berjubah dan bersorban, ada yg berjas dan berdasi ada juga berpenampilan seperti gelandangan 
setelah prosesi pemakaman selesei, ada sosok yg sangat akrab menghampiri wali paidi, sosok nabiyullah khidir 

" mereka yg hadir yg tidak dikenal orang disini adalah teman mbah kiaimu, mereka semua ini waliyullah, dan aku bersama mereka telah sepakat menunjuk kamu sebagai ganti dari gurumu, " kata nabi khidir wali paidi tertegun tidak bisa berkata-kata, lalu nabi khidir berkata lagi kepadanya " kamu sekarang menjadi WALI BADAL (wali pengganti )"

BERSAMBUNG …