Monday, 5 December 2016

Sangkuriang


Dahulu kala di Parahyangan hiduplah seorang perempuan cantik bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai anak bernama Sangkuriang. Sangkuriang mempunyai teman setia yang selalu mengawalnya ke manapun ia pergi, yaitu seekor anjing yang bernama Si Tumang.
Suatu hari Sangkuriang berburu ke hutan di temani Si Tumang. Ia berjanji akan menghadiahkan hati rusa kepada ibunya. Namun sayang, hari itu tak satupun binatang di temuinya. Sangkuriang bingung, karena ia telah menjanjikan hati rusa untuk ibunya. Karena bingung, ia jadi tidak bisa berpikir jernih. Tanpa piker panjang, ia membunuh Si Tumang dan mengambil hatinya. Ia berikan hati itu pada ibunya.
Entah bagaimana, akhirnya ibunya tahu bahwa itu adalah hati Si Tumang. Maka marahlah ibunya. Ia menganggap Sangkuriang tak tahu balas budi pada Si Tumang yang telah setia menemaninya. Saking marahnya, sontak dipukulkannya sendok kayu yang tengah dipegangnya, dan mengenai kepala Sangkuriang. Sangkuriang sangat kaget. Ia tak menyangka ibunya akan semarah itu. Dengan penuh rasa kecewa, pergilah Sangkuriang.
Dayang Sumbi sangat menyesal. Tak henti-hentinya ia berdo’a agar dipertemukan kembali dengan anaknya. Karena ketulusan dan kebersihan hati Dayang Sumbi, maka Tuhan mengaruniakan wajah yang awet muda.
Setelah sekian lama pergi, Sangkuriang kini telah tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Ia bermaksud pulang ke kampung halamannya. Di tengah jalan ia bertemu dengan perempuan yang sangat cantik jelita. Sangkuriang jatuh hati. Ia pun segera melamar perempuan tersebut.
Suatu hari, saat ikat kepala Sangkuriang lepas, calon istrinya membantunya memakaikan ikat kepala tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat bekas luka di kepala pemuda itu. Yakinlah ia bahwa calon suaminya itu adalah Sangkuriang, anaknya sendiri. Perempuan cantik itu, yang tak lain adalah Dayang Sumbi yang tetap awet muda, menjadi sangat gusar. Ia tak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Maka iapun berpikir keras mencari cara agar pernikahan tidak jadi terlaksana.
Akhirnya ia menemukan cara. Ia bersedia menikah dengan pemuda itu asal pemuda itu bisa membuatkan perahu besar dan telaga untuknya sebelum fajar menyingsing. Sangkuriang menyanggupinya.
Hari masih malam. Namun pembuatan perahu dan telaga hampir selesai. Dayang Sumbi sangat panik. Ia berpikir keras, mencari cara agar pembuatan perahu dan telaga tidak selesai. Dayang Sumbi menemukan cara. Ia membentangkan kain merah yang sangat lebar. Ia pun membuat suara-suara gaduh untuk membangunkan ayam jantan. Ayam-ayam terbangun. Melihat cahaya kemerahan dan mendengar suara-suara gaduh, ayam-ayam mengira hari telah pagi. Merekapun berkokok.

Sangkuriang yang mendengar kokok ayam mengira hari telah pagi. Ia sadar usahanya gagal. Ia marah karena tidak bisa menikahi perempuan cantik yang ia idam-idamkan. Maka ditendanglah perahu buatannya hingga tertelungkup, dan seketika menjelma menjadi sebuah gunung, yang kini dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu. Dan sungai Citarum yang ia bendung pun di jebolnya lagi hingga airnya meluap menjadi danau.

Roro Jonggrang


Pada zaman dulu kala, terbentuk satu buah kerajaan yang begitu besar yang dengan nama Prambanan. Rakyat Prambanan begitu damai serta makmur di bawah kepemimpinan raja yang dengan nama Prabu Baka. Kerajaan-kerajaan kecil pada wilayah sekitar Prambanan pun begitu tunduk serta menghormati kepemimpinan Prabu Baka
Sementara itu di lain tempat, terdapat satu kerajaan yang tidak kalah besarnya sama kerajaan Prambanan, yaitu kerajaan Pengging. Kerajaan itu di kenal begitu arogan serta kepingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya. Kerajaan Pengging memelihara satu orang ksatria sakti yang dengan nama Bondowoso
Dia memiliki senjata sakti yang dengan nama Bandung, hingga Bondowoso di kenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain memiliki senjata yang sakti, Bandung Bondowoso pun memiliki bala tentara berupa Jin. Bala tentara itu yang digunakan Bandung Bondowoso buat membantunya untuk menyerang kerajaan lain selanjutnya memenuhi segala keinginannya
Sampai Suatu saat, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging tersebut lalu memerintahkan Bandung Bondowoso buat menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang dalam bentuk Jin buat berkumpul, serta langsung berangkat menuju Kerajaan Prambanan
Setibanya di Prambanan, mereka lantas menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka serta pasukannya kalang kabut, dikarenakan mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso sukses menduduki Kerajaan Prambanan, serta Prabu Baka tewas dikarenakan terkena senjata Bandung Bondowoso
Kemenangan Bandung Bondowoso sama pasukannya disambut gembira sama Raja Pengging. Lalu Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso buat menempati Istana Prambanan serta mengurus segala isinya,termasuk keluarga Prabu Baka
Pada saat Bandung Bondowoso berada di Istana Kerajaan Prambanan, ia melihat salah satu wanita yang begitu cantik jelita. Wanita itu ialah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Ketika melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tiada berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso lantas memanggil serta melamar Roro Jonggrang
Wahai Roro Jonggrang, maukah seandainya kamu jadi permaisuriku?, Tanya Bandung Bondowoso terhadap Roro Jonggran
Mendengar pertanyaan yang ada di Bandung Bondowoso itu, Roro Jonggrang cuma terdiam serta tampak bingung. Sebenarnya ia begitu membenci Bandung Bondowoso, dikarenakan sudah membunuh ayahnya yang begitu dicintainya. Tapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya sesudah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun mendapatkan satu cara agar Bandung Bondowoso tak jadi menikahinya.
Baiklah,aku menerima lamaranmu. Namun selesai kamu mengabulkan satu syarat dariku,jawab Roro Jonggrang.
Apakah syaratmu tersebut Roro Jonggrang?,Tanya Bandung Bandawasa.
Buatkan aku seribu candi serta dua buah sumur dalam waktu satu malam, Jawab Roro Jonggrang.
Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang itu, Bandung Bondowoso pun lantas menyetujuinya. Dia merasa bahwa hal itu merupakan syarat yang begitu mudah baginya, dikarenakan Bandung Bondowoso memiliki balatentara Jin yang begitu banyak.
Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang dalam bentuk Jin itu datang. Sesudah mendengar perintah yang berasal dari Bandung Bondowoso, para balatentara tersebut lantas membangun candi serta sumur dengan begitu cepat.
Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.
Roro Jonggrang lalu berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tak bisa memenuhi persyaratannya.
Sesudah berpikir keras, Roro Jonggrang kemudian mendapatkan jalan keluar. Dia bakal membikin suasana jadi seperti pagi,hingga para Jin itu menghentikan pembuatan candi.
Roro Jonggrang secepatnya memanggil seluruhnya dayang-dayang yang berada di istana. Dayang-dayang itu diberi tugas Roro Jonggrang buat membakar jerami, membunyikan lesung, juga menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.
Mendengar amanat yang berasal dari Roro Jonggrang, dayang-dayang lekas membakar jerami. Tidak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, serta lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar jadi tercium, selanjutnya ayam pun mulai berkokok.
Melihat langit memerah, bunyi lesung, serta bau harumnya bunga itu, kemudian balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka berfikir hari telah mulai pagi, selanjutnya mereka pun mesti pergi.
Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah buat merampungkan pembangunan candi ini !!!
Para Jin itu tetap pergi, dan tak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa begitu kesal, serta akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Akan tetapi sungguh sial, belum selesai pembangunan candi itu, pagi telah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat yang berasal dari Roro Jonggrang.
Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang kemudian menghampiri Bandung Bondowoso. Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso, tegas Roro Jonggrang.
Mendengar kata Roro Jonggrang itu, Bandung Bondowoso begitu marah. Dengan nada begitu keras, Bandung Bondowoso berkata: Kau curang Roro Jonggrang. Sesungguhnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk jadi arca yang berada di dalam candi yang keseribu !

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah jadi patung. Wujud arca itu sampai kini bisa disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, serta nama candi itu dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candi-candi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu ataupun Candi Seribu.

Roro Mendut


Alkisah di pantai utara kadipaten Pati, hiduplah seorang gadis yang sangat cantik jelita. Ia bernama Roro Mendut. Ia adalah putri seorang nelayan. Kecantikan Roro Mendut sangat tersohor, hingga beritanya sampai kepada Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati. Adipati Pragolo penasaran dan ingin melihat Roro Mendut. Ternyata benar. Roro Mendut luar biasa cantiknya. Adipati Pragolo pun langsung terpesona.
Adipati Pragolo melamar Roro Mendut untuk di jadikan selir. Namun Roro Mendut menolak. Adipati Pragolo tidak menyerah. Berulang kali ia melamar Roro Mendut. Roro Mendut tetap menolak dan mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih, yaitu Pranacitra, pemuda desa yang tampan, anak seorang saudagar kaya raya. Adipati Pragolo marah. Maka ia pun menyuruh pengawalnya untuk menculik Roro Mendut.
Suatu siang, saat Roro Mendut sedang menjemur ikan, tiba-tiba ia diseret paksa oleh dua orang pengawal kadipaten. Ia dinaikkan ke kuda dan di bawa ke kadipaten. Karena tetap tidak mau di jadikan selir, maka ia pun di pingit di dalam kadipaten.
Saat itu Kadipaten Pati berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Karena Kadipaten Pati tidak membayar upeti, maka Sultan Agung memerintah panglima perangnya, yaitu Tumenggung Wiraguna, untuk menyerang kadipaten Pati. Kadipaten Pati yang tidak siap siaga menjadi kalang kabut dan akhirnya kalah. Tumenggung Wiraguna pun dibunuh oleh Adipati Pragolo dengan menggunakan senjata Baru Klinthing. Maka seluruh kekayaan beserta orang-orang di Kadipaten pati diboyong ke Mataram.
Saat itulah Tumenggung Wiraguna melihat Roro Mendut. Ia terpesona dan langsung melamarnya untuk di jadikan selir. Roro Mendut menolak dan mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih. Tumenggung Wiraguna marah. Sebagai hukuman, ia mengharuskan Roro Mendut untuk membayar upeti. Roro Mendut mencari cara untuk memperoleh uang, guna membayar upeti. Maka iapun meminta ijin untuk berjualan rokok di pasar. Karena kecantikannya yang luar biasa, maka dagangannya pun laris manis. Bahkan putung hasil isapannya pun laris terjual dengan harga mahal.
Suatu hari Roro Mendut bertemu Pranacitra yang selalu mencarinya. Mereka pun berencana untuk melarikan diri. Sesampainya di kerajaan, Roro mendut pun menceritakan ihwal pertemuannya dengan Pranacitra dan rencana mereka untuk melarikan diri dari kerajaan Mataram, kepada dua orang selir Tumenggung Wiraguna yang tidak setuju Tumenggung menambah selir lagi.
Dibantu oleh dua orang selir tersebut, Roro Mendut berhasil melarikan diri bersama Pranacitra. Namun sayang, usaha mereka diketahui oleh pengawal kerajaan. Maka Roro Mendutpun dibawa pulang ke kerajaan. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Roro Mendut, Pranacitra dibunuh, dengan harapan Roro Mendut mau menikah dengan Tumenggung Wiraguna.
Tumenggung Wiraguna kembali mendesak Roro Mendut agar mau jadi selirnya.
“Tidak. Saya sudah punya calon suami” Kata Roro Mendut.
“Percuma kamu mengharapkan laki-laki itu. Dia sudah mati.” Kata Tumenggung Wiraguna.
“Tidak mungkin. Saya baru saja bertemu dia.” Timpal Roro Mendut.
“Kalau tidak percaya, ayo, kuantar ke makamnya.” Kata Tumenggung Wiraguna. Melihat makam itu, Roro Mendut menjerit histeris.
“Sudahlah, tidak ada gunanya meratapi orang yang sudah mati.” Kata Tumenggung Wiraguna.
Maka Roro Mendut ditarik paksa agar kembali ke kerajaan. Roro Mendut meronta-ronta. Dan saat tangannya terlepas dari genggaman Tumenggung Wiraguna, secepat kilat ia menyambar keris milik Tumenggung Wiraguna dan segera berlari ke makam Pranacitra.
“Jangan Roro Mendut!” Tumenggung Wiraguna berusaha menyusul untuk menghentikan Roro Mendut.
Tetapi terlambat. Roro Mendut telah menancapkan keris itu ke tubuhnya, dan ia pun roboh di atas makam Pranacitra.

Tumenggung Wiraguna sangat menyesal. Seandainya ia tidak memaksa Roro Mendut menjadi selirnya, tentu ia tak akan bunuh diri. Sebagai ungkapan penyesalannya, maka ia pun memakamkan Roro Mendut satu liang dengan Pranacitra.

Lutung Kasarung


Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.
Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.
Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.
Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.
Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.
Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.
Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.
Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.
Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.
“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.
Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

Telaga Pasir


Pada Suatu Hari di suatu tempat di daerah kaki Gunung lawu daerah Magetan Jawa Timur hiduplah suami istri bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir, Mereka adalah sepasang suami istri yang tinggal di sebuah gubung di tepi hutan. meskipun terbuat dari kayu dan beratap dedaunan namun gubuk mungil itu sudah jukup aman bagi kiyai Pasir dan istrinya. dari gangguan binatang liar dan panasnya terik matahari, dinding gubuk itu terbuat dari kulit kayu yang di ikatkan pada sebuah tiang kayu dengan menggunakan rotan. diantara dinding-dinding kayu itu diberi sedikit celah sebagai ventilasi sehingga udara segar dapat keluar masuk kedalam gubuk yg mereka tempati itu.
Kyai Pasir adalah seorang petani ladang dari hasil ladang itulah ia dan istrinya bisa hidup, walaupun dengan hidup seadanya. ladang milik Kyai pasir terletak di tepi hutan, tidak jauh dari tempat tinggalnya, suatu hari, lelaki tua yg mulai renta itu berangkat keladang dengan mebawa sebuah kapak untuk membabat hutan dan hendak membua ladang baru di dekat ladang miliknya. ketika hendak menebang selah satu pohon besar, tiba-tiba Kyai Pasir melihat sebuah telur besa ter geletak di bawah pohon yang hedak ia tebang itu.
Haaa... telur binatang apa ini gumamnya dengan heran dan kyai Pasir sangat penasaran melihat telur besar itu. dan diambilah telur besar itu seraya diamatinya.
Ah... tidak mukin kalo telur ayam, mana mukin telur ayam sebesar ini lagi pula tidak ada ayam di daerah ini''
Kyai pasir ia tidak mau memikirkan itu binatang apa, baginya, itu adalah lauk makan siang oleh karnanya ia pun bergegas membawa telur itu untuk lauk makan siang ia dan istrinya.
Setelah sampai di rumah ia pun segera menyuruh istrinya, Bu'' tolong masakin telur itu untuk lauk makan siang kita..'' ujar Kyai Pasir.
Wah, besar sekali telur ini, baru pertama kali ini aku melihat telur sebesar ini'' ujar Nyai Pasir dengan heran saat menerima telur itu.. dari mana telur ini pak tanya Nyai pasir pada suaminya.
Kyai pasir pun bercerita bagaimana ia menemukan telur itu, setelah itu ia pun kembali meminta untuk segera memasak telur itu karena sudah kelaparan, ia juga tidak sabar ingin segera menyantap telur itu. ini telur binatang apa pak'' tanya istrinya.
Sudah lah Bu, tidak usah banyak tanya ujar kyai pasir mulai kesel, cepatlah masak telur itu perutku sudah keroncongan.!
Nyai Pasir pun segera kedapur untuk segera memasak telur itu, smbil menunggu telur matang, Kyai pasir pun sambil berabah tubuhnya sejenak karena merasa kecapekan, tak berapa lama isterinya pun selalsai memasak telurnya.
Pak hidangan makan siang telah siap, kita makan dulu, ujar Nyi Pasir.
Kyai pasir pun beranjak dari tidurnya, ia dan isterinya pun segera menyantap telur itu dengan lahap, telur rebus itu pun mereka bagi dua sama rata, usai makan siang ia pun kembali kehutan untuk melanjutkan pekerjaannya, ditengah perjalanan ia pun masih merasakan nikmatnya telur rebus tadi, setelah sesampai diladang, sekujur tubuhnya kaku dan merasa kesakitan. aduhhh.. kenapa sekujur tubuhku merasa sakit seperti ini'' ratap Kyai Pasir.
Semakin lama rasa sakit ditubuhnya semakin menjadi-jadi, Kyai pasir pun tidak kuat menahan rasa sakit itu sehingga rebah ketanah dan berguling-guling kesana kemari, selang beberapa saat kemudian tubuhnya berubah menjadi seekor ular naga besar, sungutnya sangat tajam dan keras Kyai pasir yg berubah menjadi seekor naga jantan pun terus berguling-guling tanpa henti.
Pada saat yg bersamaan Nyai Pasir yg berada di rumah pun mengalami nasib yg sama. Rupanya telur yg telah makan tadi adalah sebuah telur naga, Nyai pasir yg telah merasa kan kesakitan pun segera berlari keladang untuk minta tolong kepada suaminya. alangkah terkejutnya setelah ia tiba diladang, ia mendapati suaminya yg telah berubah menjadi naga yg sangat menakutkan, ia pun segera berlari merasa ketakutan, namun karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya Nyai pasir pun ahirnya rebah dan berguling-guling ditanah, tak lama kemudian hingga ahirnya sekujur tubuhnya di tumbuhi sisik dan menjadi naga betina. kedua naga berguling-guling sehingga tanah disekitarnya berserakan dan membentuk cekung seperti habis digali, lama kelamaan cekungan tanah itu pun menjadi luas dan dalam. kemudian muncul sebuah semburan air yang deras dari dasar cekungan itu hingga memenuhi cekungan tersebut semakin deras air yang menyembur dari dasar cekungan, dan ahirnya menjadi sebuah telaga, oleh masarakat setemat, telaga itu dinamakan telaga pasit yaitu diambil dari nama Kyai dan Nyai Pasir, namun karena lokasinya di sebuah Kelurahan Sarangan telaga ini bisa disebut telaga sarangan.

Nah demikian lah legenda Telaga Pasir dari daerah Jawa Timur, hingga saat ini legenda ini masih digemari masarakat Jawa Timur kususnya masarakat Magetan, kini telaga pasir atau telaga sarangan menjadi salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Magetan.

Cindelaras


Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. “Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.
Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.
Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. “Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.” Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Keris Empu Gandring


Gunung Kelud memiliki legenda yang panjang di negeri ini. Saat Kerajaan Majapahit berjaya, Gunung Kelud juga sempat meletus. Letusan Kelud menjadi perhatian raja terbesar Kerajaan Majapahit saat itu: Hayam Wuruk. Bahkan, konon kawah Kelud dijadikan tempat membrangus aura jahat keris Mpu Gandring oleh Raja Singosari saat itu: Wisnuwardana.
Keris Mpu Gandring sendiri terbuat dari bongkahan logam yang jatuh dari langit atau meteorit. Bongkahan logam itu diduga memiliki aura yang sangat jahat dan haus darah. Terbukti, nyawa sang empu alias yang membuat keris Mpu Gandring tewas oleh keris ini. Selain itu Mpu Gandring juga menewaskan prajurit Keboijo, Ken Arok dan Anusapati. Setelah membunuh Anusapati dengan keris Empu Gandring, Tohjaya naik tahta menjadi Raja Singosari.
Belum genap setahun menjabat sebagai Raja Singosari, Tohjaya tewas dalam sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh Ranggawuni yang merupakan anak Anusapati. Ranggawuni yang membalaskan dendam ayahnya tersebut akhirnya menjadi Raja Singosari dan bergelar Wisnuwardhana (1248-1268).
Di masa kepemimpinan Wisnuwardhana inilah perseteruan antar-keluarga dalam dinasti Rajasa berakhir. Wisnuwardhana menikah dengan putri eks kerajaan Kadiri yang tamat riwayarnya setelah dikalahkan oleh Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari.
Berabad-abad silam, Jawadwipa (Pulau Jawa) dikisahkan selalu dalam kondisi tidak stabil. Daratannya terombang-ambing, timbul tenggelam terayun oleh gelombang samudera. Kalangan dewata di kahyangan pusing tujuh keliling, hingga akhirnya muncul ide cemerlang dari Betara Guru.
"Jawadwipa, harus diberi pemberat, biar tidak terus terombang-ambing," demikian ide cemerlang Betara Guru. "Mahameru yang ada di Jambhudwipa (India), harus dipindahkan ke Jawadwipa," lanjut sang betara menjelaskan gagasannya.
Para dewata sepakat Gunung Mahameru dipindahkan ke Pulau Jawa. Namun, dalam proses pemindahannya, bagian gunung berguguran di sepanjang perjalanan, hingga menjadi gunung-gunung lain di Jawa. Satu di antara gunung-gunung itu adalah Kampud (Kelud).
Sementara yang lainnya adalah Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kawi, Arjjunai (Arjuno) dan Gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring. Menyandar pada Gunung Brahma (Bromo), hingga akhirnya menjadi Gunung Sumeru (Semeru). Sedang puncak Mahameru didirikan, hingga menjadi Pawitra atau Gunung Penanggungan.
Soal keberadaan Gunung Kelud, konon, kawah gunung itu sebenarnya merupakan kuburan dari keris Mpu Gandring. Meski kebenaran atas kisah ini masih perlu pembuktian, namun banyak warga yang terlanjur mempercayainya. Tetapi sejarah mencatat, betapa haus darahnya keris ciptaan empu itu.

Selain merenggut jiwa si penciptanya, Mpu Gandring sendiri, juga merenggut jiwa si pemesan, Ken Arok dan beberapa Raja Singosari lainnya.