Friday, 25 November 2016

Ambika


Ambika



Ambika adalah putri kedua dari tiga bersaudara putri Prabu Darmahumbara, raja negara Giyantipura/negeri Kasi dengan permaisuri Swargandini. Kedua saudara kandungnya masing-masing bernama Dewi Amba, dan Dewi Ambalika/Ambaliki.
Dewi Ambika dan saudaranya Dewi Ambalika/Ambaliki menjadi putri boyongan Bhisma Dewabrata yang telah berhasil memenangkan sayembara tanding di negeri Giyantipura/Kasi dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka. Kemudian Dewi Ambika bersama Dewi Ambalika dinikahkan dengan Prabu Wicitrawirya, raja Hastina yang juga adalah adik Bhisma Dewabrata dari lain ibu.
Setelah Prabu Wicitrawirya meninggal karena sakit, atas keinginan Dewi Durgandini, ibu Prabu Wicitrawirya, Dewi Ambika dan Ambalika dinikahkan dengan Abiyasa, putra Durgandini dari resi Palasara. Dari perkawinannya itu Dewi Ambika melahirkan seorang putra bernama Destarata.
Dewi Ambika berumur panjang. Ia hidup sampai berakhirnya perang Bharatayuda setelah penobatan Yudhistira menjadi raja negara Hastina dengan gelar Prabu Kalimataya.
Kematian Ambika dibimbing oleh Abiyasa, bersama Ambalika dan Dewi Durgandini mereka mati moksa.


Abilawa


Abilawa



Abilawa atau Jagal Abilawa adalah nama samaran Bima saat menyamar di negara Wirata setelah menjalani pengasingan selama 12 tahun bersama dewi Drupadi dan ke-empat saudaranya karena perbuatan Kurawa.
Bentuk dan pakaian Abilawa tidak beda dengan Bratasena (Jayasena), hanya perbedaan dirambut yang terurai gimbal.
Dalam penampilan wayang kebanyakan penggambaran Abilawa bermuka dan seluruh badannya hitam).

Nama Samaran Pandawa saat di negara Wirata :
1. Yudistira atau Darmakusumah menyamar sebagai Brahmana dengan nama Kangka
2. Bima ata Werkudoro menyamar sebagai tukang jagal daging dengan nama Abilawa (Jagal Abilawa)
3. Arjuna menyamar sebagai seorang seniman / guru tari dengan nama Wrihatnala
4. Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama Grantika
5. Sadewa menyamar sebagai tukang kebun / mengurus taman dengan nama Tantripala
6. Drupadi menyamar sebagai pengurus rumah/istana Wirata dengan nama Salidri

Adirata


Adirata



Adirata adalah seorang kusir dan merupakan ayah angkat Adipati Karna. Ia menjabat sebagai kusir Raja Destarata.
Adirata memungut Karna (Radheya) di sungai Gangga. Mulanya Adirata melihat sesuatu berkilauan di tengah sungai, seperti permata yang mengambang. Namun setelah benda tersebut mendekat, Adirata sadar bahwa benda itu adalah sebuah kotak. Kemudian ia berenang untuk meraih kotak tersebut, dan mendapati bahwa di dalamnya terdapat seorang bayi. Di dalam kotak tersebut juga terbungkus baju zirah dan anting-anting.
Setelah memungut bayi tersebut, Adirata segera memberitahu istrinya, yaitu Radha. Kemudian mereka menamai bayi tersebut Wasusena, karena pada saat ditemukan, anak tersebut disertai dengan baju zirah dan anting-anting. Namun, Adirata sering memanggilnya Radheya, yang secara harfiah berarti putra Radha.
Adirata dan Radha merawat Radheya dengan penuh kasih sayang. Pada saat Radheya berusia enam belas tahun, Adirata membelikannya sebuah kereta dan kuda. Namun minat Radheya mengarah kepada ilmu perang dan panah. Ia tidak tertarik untuk menjadi seorang kusir seperti ayahnya. Dengan mengamati kepribadian tersebut, Adirata yakin bahwa Radheya merupakan keturunan ksatriya. Kemudian, karena merasa Radheya sudah cukup dewasa untuk mengetahui asal-usulnya, maka Adirata dan Radha pun menceritakan masa lalu Radheya. Mereka juga memberitahukan dimana ia dipungut dan bagaimana keadaannya pada saat itu. Setelah mendengar penjelasan orangtuanya, Radheya pergi merantau, lalu berguru pada Parasurama (Rama Bhargawa) untuk menjadi seorang kesatria.
Bertahun-tahun kemudian, pada saat sebuah turnamen diselenggarakan di Hastinapura, Radheya turut serta meski tak diundang. Pada acara tersebut, Duryodana mengangkat Radheya menjadi raja di Angga, sebab wilayah tersebut belum memiliki raja. Setelah mengetahui anaknya dinobatkan sebagai raja, Adirata meuncul di tengah kerumunan penduduk Hastinapura untuk memberi doa restu pada Radheya. Kemunculan Radheya tersebut menjadi bahan ejekan bagi Bima, sebab Radheya yang dianggapnya seorang kesatria, ternyata hanyalah putra seorang kusir. Mendengar ejekan tersebut, Radheya hanya bisa menahan marah, sedangkan Duryodana membelanya.

Anoman


Anoman



Anoman adalah putra Batara Guru dengan Dewi Anjani, putri sulung Resi Gotama dengan Dewi Indradi dari pertapaan Erraya/Agrastina.Anoman berwujud wanara/kera berbulu putih, tetapi dapat berbicara dan beradat istiadat seperti manusia. Ia juga dikenal dengan nama ; Anjaniputra (putra Dewi Anjani), Bayudara (putra Batara Bayu), Bayusiwi, Guruputra (putra Batara Guru), Handyapati (Memiliki kekuatan), Yudawisma (panglima perang), Maruta (angin), Maruti, Palwagaseta (kera putih), Prabancana, Ramandayapati (putra angkat Sri Rama), Senggana, Suwiyuswa (panjang usia), dan Mayangkara (gelar setelah menjadi pendeta di Kendalisada).
Ia memiliki mustika Cupumanik Astagina dari ibunya, dan memiliki beberapa kesaktian. Ia dapat bertiwikrama, memiliki aji Sepiangin dari Batara Bayu, Aji Pameling dari Batara Wisnu, dan aji Mundri dari Resi Subali.
Anoman memakai pakaian yang melambangkan kebesaran, antara lain ; Pupuk Jarotasem Ngrawit, Gelung Mingkara, Kelat Bahu Sigar Blibar, Kampuh (kain poleng) berwarna hitam, merah, kuning dan putih, Gelang/Binggel Candramukti dan ikat pinggang Oyod/Akar Mimang.
Anoman tiga kali menikah. Pertama dengan Dewi Urangayu, putri Begawan Minalodra dari Kandabumi. Berputra Trigangga/Triyangga berujud kera putih. Istri kedua bernama Sayempraba, putri raksasa Wisakarma dari Gowawindu, tidak mempunyai anak. Istri yang ketiga bernama Dewi Purwati, putri Resi Purwapada dari pertapaan Andon Sumawi, berputra Purwaganti. Anoman mempunyai perwatakan ; pemberani, sopan santun, tahu harga diri, setia, prajurit ulung, waspada, pandai berlagu, rendah hati, teguh dalam pendirian, kuat dan tabah.
Anoman berumur sangat panjang, hidup dari zaman Ramayana hingga Mahabarata, bahkan hingga awal memasuki zaman Madya. Ia mati moksa raga dan sukmanya lenyap di pertapaan Kendalisada.


Abiyasa


Abiyasa



Abiyasa dikenal pula dengan nama Resi Wiyasa (Mahabharata). Ia putra Resi Palasara dari pertapaan Retawu, dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basuketi, raja Wirata. Abiyasa memiliki sifat dan perwatakan ; pandai, sangat cerdas, arif bijaksana, alim, soleh, berwibawa, limpad dan linuwih. Ia juga memiliki berbagai keistimewaan antara lain ; ahli bertapa, ahli nujum, ahli pengobatan (tabib), banyak memiliki ilmu kesaktian, ahli tata negara dan tata pemerintahan. Abiyasa juga mendapat anugrah Dewata berumur panjang.
Untuk mengisi kekosongan tahta kerajaan Astina karena meninggalnya Prabu Wicitrawirya, Abiyasa diboyong oleh dewi Durgandini ke Astina dan dijadikan raja dengan gelar Prabu Kresnadwipayana. Dewi Ambika janda Prabu Citragada dan Dewi Ambiki/Ambalika janda Prabu Wicitrawirya kemudian dikawinkan dengan Abiyasa. Dari perkawinan tersebut Abiyasa memperoleh dua orang putra, yaitu ; Drestarasta dari Dewi Ambika, dan Pandu dari Dewi Ambiki. Abiyasa juga kawin dengan Dewi Datri, penyanyi kidung Weda di pertapaan Srungga, dan berputra Yamawidura.
Setelah menobatkan Pandu menjadi raja Astina, Abiyasa kembali ke pertapaan Retawu. Abiyasa/Resi Wiyasa juga dikenal sebagai pujangga besar dengan karyanya ; Kisah kepahlawanan Mahabharata yang terdiri dari seratus ribu (100.000) seloka dan dibagi dalam delapan belas (18) buku yang dinamakan Parwa.
Abiyasa meninggal setelah berakhirnya perang Bharatayuda, tepatnya satu pekan setelah kelahiran Parikesait, putra Abimanyu dengan Dewi Utari. Ia moksa kembali ke alam Nirwana dengan menaiki kereta cahaya.

Arya Adimanggala


Arya Adimanggala


Arya Adimanggala konon adalah putra Arya Ugrasena/Pradu Setyajid raja Lesanpura dengan Ken Yasida atau Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura. Setelah Ken Sagupi dikawinkan dengan Antagopa, seorang gembala dan tinggal di padepokan Widarakandang/Widarakanda, Arya Adimanggala dianggap sebagai putra Ken Sagupi dengan Demang Antagopa.
Arya Adimanggala mempunyai kakak kandung bernama Arya Pragota, yang menjadi patih Prabu Baladewa di negara Mandura. Selain itu dari garis keturunan Arya Ugrasena, ia mempunyai dua orang saudara bernama, Dewi Setyaboma (istri Prabu Kresna) dan Arya Setyaki. Sedangkan dari garis keturunan ibunya, Ken Sagupi, selain Arya Pragota, ia mempunyai dua orang saudara, yaitu, Arya Udawa, putra Ken Sagupi dengan Prabu Basudewa, dan Dewi Larasati, putri Ken Sagupi dengan Arya Prabu Rukma/Prabu Bismaka, raja Kumbina.
Arya Adimanggala mempunyai perawakan tinggi besar dan gagah. Sifat perwatakannya pemberani, setia, jujur dan penuh tanggung jawab. Karena kesaktiannya, ia diangkat menjadi patih negara Awangga pada jaman pemerintahan Prabu Basukarna/Adipati Karna.
Akhir riwayatnya diceritakan: menurut Mahabharata, Arya Adimanggala tewas dalam perang Bharatayuda, mati bersama/sampyuh (Jawa) dengan patih Jayasemedi dari negara Plangkawati. Sementara ada kisah pedalangan yang menceritakan, Arya Adimanggala tewas dibunuh oleh Adipati Karna, sebelum Adipati Karna gugur dalam perang tanding melawan Arjuna, akibat dari kesalahan/keteledorannya. ia yang seharusnya mengucapkan ―Adipati Karna minta sedah/sirih, menjadi Adipati Karna seda/mati.‖ Akibat salah ucap itu Dewi Surtikant, istri Adipati Karna melakukan bela pati dengan bunuh diri.

Dewi Ambalika


Dewi Ambalika

Dewi Ambalika atau Dewi Ambiki (Mahabharata) adalah putri bungsu dari tiga bersaudara putri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura dengan permaisuri dewi Swargandini. Kedua saudara kandungnya masing-masing bernama ; Dewi Amba, yang secara tak sengaja mati terbunuh oleh panah Dewabrata/Resi Bisma, dan Dewi Ambika, yang menjadi istri Prabu Citragada, putra sulung Prabu Santanu dengan Dewi Durgandini dari negara Astina, dan kemudian menjadi istri Begawan Abiyasa.
Dewi Ambalika dan kakaknya, Dewi Ambaliki menjadi putri boyongan Dewabrata/Resi Bisma yang telah berhasil memenangkan sayembara tanding di negara Giyantipura dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka. Di negara Astina, Dewi Ambalika dinikahkan dengan Wicitrawirya, putra bungsu Prabu Santanu dengan Dewi Durgandini. Setelah Prabu Wicitrawirya meninggal karena sakit, atas kehendak Dewi Durgandini, Dewi Ambalika dinikahkan dengan Begawan Abiyasa, putra tunggal Dewi Durgandini dengan Begawan Palasara dari pertapaan Retawu. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra yang berwajah pucat, yang diberi nama Pandu, yang secara turun temurun kelak menurunkan keluarga Pandawa.
Dewi Ambalika berumur sangat panjang. Ia hidup sampai berakhirnya perang Bharatayuda Setelah penobatan Yudhistira menjadi raja negara Astina bergelar Prabu Kalimataya, dengan bimbingan Begawan Abiyasa, Dewi Ambika mati moksa bersama-sama dengan Dewi Ambika dan Dewi Durgandini.